EH!

Saat ini global warming tengah menjadi salah satu isu paling kompleks yang dihadapi para pimpinan negara dunia. Warning semakin gencar diteriakkan oleh para ahli seiring dengan membludaknya gas rumah kaca. Emisi Global CO2 telah mengalami lonjakan yang sangat ekstrim pada tahun 2010, menjadikannya rekor lonjakan paling besar sepanjang sejarah. Meski saat ini efek global warming belum terlalu terlihat, terutama di negara khatulistiwa seperti Indonesia, prevensi sudah harus dilakukan. Tanpa prevensi, bencana akan datang:Puncak pegunungan akan mencair, hutan-hutan akan menjadi padang pasir, terorisme meningkat, dan bahkan ribuan pulau Indonesia diduga akan tenggelam pada tahun 2030!

Upaya penanggulangan global warming telah dilakukan oleh PBB, melalui conference tahunan UNFCCC yang diikuti 194 negara. Juga oleh banyak Non-governmental Organization (NGO). Sebagai contoh, di Indonesia ada Tunas Hijau, yang mengadakan Ajang Putra-Putri Lingkungan Hidup serta kegiatan lain yang environmentally friendly. Namun demikian, kesadaran masyarakat secara umum (atau lebih dikenal dengan istilah grass root community) masih rendah. Padahal global warming sebenarnya merupakan efek piling dari kegiatan-kegiatan sederhana di rumah tangga. Maka sosialisasi alangkah baiknya dilakukan dengan media yang sedang booming atau paling banyak digunakan masyarakat. Sebagai contoh twitter dan facebook.

Earth Hour, sebuah kegiatan global yang diadakan World Wide Fund for Nature (WWF), mengajak masyarakat dunia untuk melakukan aktivias positif yang menyelamatkan bumi. Salah satu agenda utamanya diadakan tiap sabtu pada minggu terakhir bulan maret, yang tahun ini jatuh pada tangal 31 Maret, pukul 20.30-21.30. Ide ini pertama dimulai di Sydney, Australia, pada tahun 2007 lalu diikui oleh negara-negara lain di tahun-tahun berikutnya. Earth Hour Indonesia sendiri tahun ini memberi nama: “Ini Aksiku, Mana Aksimu?”, dan menantang masyarakat untuk lebih konkret dalam berhemat energi. Tahun 2012, 18 kota di Indonesia akan berpartisipasi dalam gerakan ini. Menggandeng pula mitra, mulai dari pemerintahan (Kota Surabaya, Kota Yogya, Provinsi Jawa Tengah), media (metroTV, radio Gadjah Mada, Jawa Pos, Suara Merdeka) hingga perusahaan yang juga berjanji akan menonaktifkan kegiatan berlistrik selama jam tersebut. Kegiatan ini terus digencarkan melalui social media, seperti twitter (@EHIndonesia, @EHJogja) dan Facebook. SocNet selain menjadi alat penyuluhan pada masyarakat tentang aksi 31 Maret, menjadi ajang masyarakat untuk berlomba-lomba memamerkan usahanya untuk menyelamatkan bumi. Seseorang dapat menuliskan aksinya lalu me-mention pada akun @EHIndonesia, @Ehjogja, atau EH lainnya untuk di retweet dan disebarluaskan ke khalayak. Dengan demikian orang lain juga akan terpacu untuk melakukan aktivitas serupa. Sebagai contoh akun @axyzadas bercerita bahwa ia baru saja menggunakan transportasi umum ke kampus – sederhana tetapi bermakna.

SocNet juga digunakan EH untuk mempublikasikan program-programnya yang lain. Pada 28/02 EH jogja bercerita tentang audiensi di Kepatihan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan calon Adipati Paku Alam. Sultan dengan senang hati menyatakan bahwa listrik keraton akan dipastikan mati pada 31 Maret 2012, dan Ngarso Dalem siap menjadi Duta Earth Hour Jogja 2012. Disamping itu calon Adipati Paku Alam, Kanjeng Bimo, juga bercerita tentang concern-nya akan lingkungan hidup serta pengalamannya menjadi seorang anak Pecinta Alam semasa muda. Harapannya, posting EH di twitter akan aksi seperti ini akan memberikan gambaran bahwa kegiatan-kegiatan ini dilakukan bukan hanya oleh masyarakat kecil tetapi juga oleh para penguasa. Sehingga lebih banyak orang yang berkenan menyelamatkan bumi ini.

Essay singkat tugas untuk kelas Antropologi Dasar Dr. Setiadi, FIB UGM